Dalam rapat dinas hari Sabtu ,tanggal 10 September 2011, melalui wakasek kurikulum ( Pak Iksan ) disosialisasikan kebijakan baru yang berlaku secara bertahap yakni penggunaan bahasa Inggeris sebagai bahasa pengantar untuk semua mata pelajaran terutama matematika dan sains. Tidak begitu jelas apakah kebijakan ini bersifat wajib atau himbauan saja. Jika sekedar himbauan maka tentu tidak ada konsekuensi apa-apa bagi yang tidak melaksanakan, dan akan sangat enjoy bagi yang ingin melaksanakannya karena tidak mengikat. Tapi jika kebijakan itu ternyata wajib, maka akan ada konsekuensi punishment bagi yang tidak melaksanakan sekaligus reward bagi yang melaksanakan. Namun terlepas dari semua itu, ada baiknya kita telusuri asbabulnuzul-nya kebijakan baru tersebut.:
Kebijakan tersebut bermula dari persiapan SMAN 1 Dompu dalam rangka menyambut predikat baru yang ,Insya Allah, akan disandang oleh sekolah tersebut,yakni Rintisan Sekolah Bertaraf Internasioanal (RSBI). Jika cuma itu alasannya, sungguh naif! Sebab konsep RSBI itu sendiri sebenarnya tidak begitu jelas ( baca ini ).
Akan halnya penerapan bilingual pada pelajaran sains, inipun beresiko sangat tingggi yaitu terjadinya miskonsepsi, sebab proses translate yang dilakukan guru dengan kemampuan bahasa Inggris rendah justru akan mengaburkan konsep-konsep sains yang hendak disampaikan kepada para siswa. Belum lagi daya cerna siswa yang amat terbatas. Proses transfer ilmu melalui bahasa Indonesia saja sudah ribet apalagi pakai bahasa Inggeris. Kiranya tidaklah perlu kita mengulang kegagalan yang dialami oleh Malaysia yang sudah lebih dulu menerapkan kebijakan tersebut di sekolah-sekolah menengah mereka. Kisah kegagalan Malaysia terdeteksi setelah implementasi kebijakan selama 12 tahun yang kemudian disimpulkan bahwa penerapan bilingual pada mata pelajaran sains sangat kontra produktif terhadap peningkatan mutu lulusan. Bayangkan ! Selama 12 tahun mutu pendidikan sains di Malaysia mengalami stagnasi kalau tidak mau dikatakan mundur sama sekali.Akhirnya mereka menggunakan bahasa Melayu yang sudah sangat akrab dengan lidah dan pikiran mereka, sampai sekarang. Dan jangan lupa, tengok juga Jepang. negara super power di bidang iptek, mereka tidak merasa minder dengan menggunakan bahasa nasional mereka di sekolah-sekolah dan merasa sangat aneh ketika mendengar guru-guru sains di Indonesia mengginakan bahasa Inggeris di kelas. Tapi, mohon pak Iksan tidak membandingkannya dengan SMA-SMA di Inggeris atau di Australia sana sebab pasti guru-guru di sana menggunakan bahasa Inggeris ketika mengajar..he..he...
So. Apakah kita tidak boleh go internasional ?! Oh, tentu saja boleh, tapi yang go iternasional itu lebih baik kurikulumnya saja, misalnya kita adopsi kurikulum salahsatu SMA di negara maju tapi bahasanya tetap kita gunakan bahasa pemersatu kita yakni bahasa Indonesia.
Jadi sekarang kita harus bagaimana ?Alih-alih ingin maju malah makin terpuruk. Oh, jangan pesimis. Bagaimana kalau kita berdayakan dan budayakan penggunaaan bahasa Inggeris itu di luar KBM saja, misalnya kita buat saja " English Day" dimana pada hari itu semua sivitas akademika SMA 1 Dompu harus bercakap-cakap menggunakan bahasa Ingggeris. Dijamin pada hari itu orang-orang tidak akan banyak bicara, selain say hello saja..
Kesimpulan : .1 RSBI bukan Sekolah Internasional yang murid-muridnya tediri dari anak-anak duta besar atau ekspatriat dari berbagai negara. yang notabene hanya mengerti bahasa ibu dan bahasa Inggeris saja.
2. Penerapan bahasa Inggeris sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran sains adalam program " HIGH COST LOW BENNEFIT"
Akhirnya, mohon maaf bila ada salah-salah kata. Assalamuallaikum.
Kebijakan tersebut bermula dari persiapan SMAN 1 Dompu dalam rangka menyambut predikat baru yang ,Insya Allah, akan disandang oleh sekolah tersebut,yakni Rintisan Sekolah Bertaraf Internasioanal (RSBI). Jika cuma itu alasannya, sungguh naif! Sebab konsep RSBI itu sendiri sebenarnya tidak begitu jelas ( baca ini ).
Akan halnya penerapan bilingual pada pelajaran sains, inipun beresiko sangat tingggi yaitu terjadinya miskonsepsi, sebab proses translate yang dilakukan guru dengan kemampuan bahasa Inggris rendah justru akan mengaburkan konsep-konsep sains yang hendak disampaikan kepada para siswa. Belum lagi daya cerna siswa yang amat terbatas. Proses transfer ilmu melalui bahasa Indonesia saja sudah ribet apalagi pakai bahasa Inggeris. Kiranya tidaklah perlu kita mengulang kegagalan yang dialami oleh Malaysia yang sudah lebih dulu menerapkan kebijakan tersebut di sekolah-sekolah menengah mereka. Kisah kegagalan Malaysia terdeteksi setelah implementasi kebijakan selama 12 tahun yang kemudian disimpulkan bahwa penerapan bilingual pada mata pelajaran sains sangat kontra produktif terhadap peningkatan mutu lulusan. Bayangkan ! Selama 12 tahun mutu pendidikan sains di Malaysia mengalami stagnasi kalau tidak mau dikatakan mundur sama sekali.Akhirnya mereka menggunakan bahasa Melayu yang sudah sangat akrab dengan lidah dan pikiran mereka, sampai sekarang. Dan jangan lupa, tengok juga Jepang. negara super power di bidang iptek, mereka tidak merasa minder dengan menggunakan bahasa nasional mereka di sekolah-sekolah dan merasa sangat aneh ketika mendengar guru-guru sains di Indonesia mengginakan bahasa Inggeris di kelas. Tapi, mohon pak Iksan tidak membandingkannya dengan SMA-SMA di Inggeris atau di Australia sana sebab pasti guru-guru di sana menggunakan bahasa Inggeris ketika mengajar..he..he...
So. Apakah kita tidak boleh go internasional ?! Oh, tentu saja boleh, tapi yang go iternasional itu lebih baik kurikulumnya saja, misalnya kita adopsi kurikulum salahsatu SMA di negara maju tapi bahasanya tetap kita gunakan bahasa pemersatu kita yakni bahasa Indonesia.
Jadi sekarang kita harus bagaimana ?Alih-alih ingin maju malah makin terpuruk. Oh, jangan pesimis. Bagaimana kalau kita berdayakan dan budayakan penggunaaan bahasa Inggeris itu di luar KBM saja, misalnya kita buat saja " English Day" dimana pada hari itu semua sivitas akademika SMA 1 Dompu harus bercakap-cakap menggunakan bahasa Ingggeris. Dijamin pada hari itu orang-orang tidak akan banyak bicara, selain say hello saja..
Kesimpulan : .1 RSBI bukan Sekolah Internasional yang murid-muridnya tediri dari anak-anak duta besar atau ekspatriat dari berbagai negara. yang notabene hanya mengerti bahasa ibu dan bahasa Inggeris saja.
2. Penerapan bahasa Inggeris sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran sains adalam program " HIGH COST LOW BENNEFIT"
Akhirnya, mohon maaf bila ada salah-salah kata. Assalamuallaikum.